JUDICIALJUSTICE.COM – Pelalawan | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Bernas Binsus, Kelurahan Pangkalan Kerinci Barat, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, diduga ditemukan dalam kondisi berulat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Bernas Binsus, Kelurahan Pangkalan Kerinci Barat, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, diduga ditemukan dalam kondisi berulat.
Dugaan tersebut memicu kekhawatiran serius terkait kualitas makanan yang dikonsumsi para siswa dan dinilai mencoreng tujuan program pemerintah yang seharusnya menjamin asupan sehat dan higienis bagi anak-anak sekolah.
Informasi tersebut diperoleh dari salah satu warga yang enggan disebutkan namanya pada Senin, 11 Mei 2026.
Hasil konfirmasi kepada pihak pengelola dapur MBG melalui Asisten Agung Prayoga pada Selasa (12/5/2026), membenarkan bahwa informasi terkait dugaan makanan berulat tersebut telah diterima dari pihak sekolah.
“Iya saya asisten, dan informasi itu benar kami sudah menerima. tetapi kami tidak tau apakah karena ompreng yang tercampur. Terkait MBG perporsinya Rp15.000. sepengetahuan saya yang dibagikan kepada siswa kelas 3 ke bawah sampai ke TK seharga Rp8.000 perporsi, dan kelas 4 ke atas Rp10.000 perporsi. Sehingga keuntungan Pengelola MBG lebih kurang Rp5.000 dan Rp2.000 untuk Pengelola Dapur MBG serta Rp3.000 untuk biaya operasional,” jelas Agung.
Grace, salah satu warga menanggapi Dugaan makanan berulat yang dikonsumsi siswa dinilai bukan persoalan sepele dan tidak cukup hanya dijelaskan dengan dugaan “ompreng tercampur”. Publik menilai pengawasan kualitas makanan dalam program MBG semestinya dilakukan secara ketat sebelum makanan dibagikan kepada anak-anak.
Sementara itu, hasil konfirmasi kepada pihak sekolah melalui petugas penerima dan pembagi MBG kepada siswa, pihak sekolah dinilai belum memberikan penjelasan secara terbuka terkait dugaan adanya MBG berulat yang disebut telah dimakan oleh salah satu murid.
“Terkait MBG kan, saya tidak tau. Tanyakan sama sekuriti. Kan dia yang kasih berita kan. Saya tau dia yang ngasi kasih berita karena pihak MBG menghubungi saya. Mengatakan Bu, ada wartawan? Kok ada yang ngasi nomor saya sama orang wartawan? Darimana Bapak dapatkan informasi itu tanyakan sama orangnya,” tuturnya.
“Saya hanya memasukan rantang ke situ dan menerima rantang udah selesai. Saya tidak menengok-nengok MBG. Pokoknya pak saya nggak tau menahu soal MBG, yang saya tau hanya menerima MBG. Dan soal masalah apapun tanyakan sama yang bersangkutan. Pokoknya saya menerima MBG, saya kasih sama anak, sudah selesai, itu tugas saya pak,” lanjutnya.
“Saya nggak check ini MBG, menunya pun saya nggak check, dah dimakan dah selesai. Pokoknya pak saya tidak bersangkutan dengan siapapun disini yang saya menerima MBG,” tegasnya.
“Bapak konfirmasi aja sama yang bersangkutan, atau kepada kepala sekolah. Pihak Dapur MBG juga telah memberitahukan ke saya kemarin. Bapak dapat informasi dari sekuriti tanya aja sama dia. Saya hanya menerima MBG dari pihak dapur dan membagikan kepada murid. Itu aja,” pungkasnya.
Sikap petugas dari pihak sekolah tersebut juga menuding informasi media diperoleh dari sekuriti sekolah. Padahal, informasi yang diterima media berasal dari salah satu warga yang tidak ingin disebutkan identitasnya.
Makanan yang dibagikan kepada siswa seharusnya dipastikan layak konsumsi, bersih, sehat dan bebas dari kontaminasi yang membahayakan kesehatan anak-anak.
Media ini sudah dua kali melakukan konfirmasi langsung ke pihak sekolah, namun tidak berhasil bertemu dengan Kepala Sekolah maupun Wakil Kepala Sekolah. Bahkan saat menemui salah seorang guru selaku petugas penerima MBG di sekolah tersebut, untuk menguji kebenaran informasi, petugas penerima MBG dari SDN BERNAS BINSUS tidak bersedia memberikan keterangan secara terbuka.
Saat ditanya kepada Guru yang lain di kantor mengatakan bahwa Kepala Sekolah sedang ada kegiatan lain di luar sekolah dan Wakil Kepala Sekolah sedang ada kegiatan Kepramukaan.
Dugaan MBG berulat ini menjadi perhatian serius karena menyangkut kesehatan dan keselamatan peserta didik. Program yang seharusnya mendukung tumbuh kembang anak dengan makanan sehat dan bergizi justru dikhawatirkan dapat menimbulkan penyakit apabila kualitas makanan tidak diawasi secara maksimal.
Konfirmasi Kepada plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pelalawan Leonardo, S.Pd., M.M untuk meminta tanggapannya belum berhasil karena sedang ada kegiatan.
“Lagi pertemuan Pak sama Dit SMA kementerian,” jelasnya singkat. Rabu (13/5/2026).
Masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dapur MBG, sistem pengawasan distribusi makanan, hingga standar kebersihan makanan sebelum dibagikan kepada para siswa. Selain itu, pihak sekolah dan instansi terkait juga diharapkan tidak menutup diri terhadap konfirmasi media agar informasi yang berkembang di masyarakat dapat dijelaskan secara transparan dan terang benderang. Tim.















