Santri di Pelalawan Diduga Dikeroyok Empat Rekannya, Dirawat Intensif di Pekanbaru

JUDICIALJUSTICE.COM – PELALAWAN | Dunia pendidikan di Kabupaten Pelalawan kembali digegerkan dengan dugaan kasus pengeroyokan yang terjadi di lingkungan Pondok PYHM atau yang dikenal masyarakat sebagai Pondok Buya Karim, Senin (11/5/2026).

Seorang santri dilaporkan mengalami luka serius hingga harus menjalani perawatan intensif di RSUD Arifin Ahmad akibat dugaan pengeroyokan oleh empat santri lainnya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, tiga dari empat terduga pelaku merupakan kakak kelas korban, sementara satu lainnya masih berada dalam tingkat yang sama dengan korban.

Kepala Pondok PYHM, Jefri, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan pihak pondok telah mengambil langkah penanganan terhadap korban maupun para terduga pelaku.

“Kejadian itu benar, korban yang luka satu, terduga pelaku ada empat, tiga orang kakak kelas korban dan satu orang masih sekelas. Belum pernah kejadian sebelumnya terkait kejadian ini,” ujar Jefri saat dikonfirmasi, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, korban saat ini telah mendapatkan penanganan medis dan seluruh biaya pengobatan sementara ditanggung pihak pondok pesantren.

“Sekarang kita bawa korban dan kita tangani, kita berikan pengobatan. Semua biaya untuk sementara ini dari pondok semua. Pelaku, orangtuanya sudah kita ketemukan dengan orangtua korban dan kita sudah bawa ke rumah sakit juga, dan orangtua pelaku sepakat menanggung biaya-biayanya,” jelasnya.

Korban diketahui masih menjalani perawatan intensif di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru akibat luka yang dialaminya.

Pihak pondok menjelaskan, insiden tersebut diduga dipicu persoalan handphone yang dimainkan korban pada malam hari. Padahal, aturan pondok melarang santri membawa maupun menggunakan handphone di lingkungan asrama.

“Handphone pelaku dimainkan oleh korban pada malam hari, dan sebenarnya pondok tidak membenarkan untuk bawa handphone. Nah, pelaku ini tidak senang,” kata Jefri.

Bacaan Lainnya
Baca Juga:  Bupati Pelalawan H. Zukri Tinjau Langsung Titik Karhutla di Teluk Meranti, Tegaskan Komitmen Penanganan

Selain itu, korban diketahui merupakan pengurus OSIS pondok yang diberi tanggung jawab mengawasi para santri di asrama, termasuk para terduga pelaku.

“Korban ini juga kita libatkan sebagai pengurus OSIS untuk mengawasi adik-adik di asrama, termasuk pelaku. Jumlah santri sekitar 360 orang,” ungkapnya.

Diduga, persoalan tersebut tidak hanya dipicu masalah handphone, tetapi juga adanya ketidaksenangan pribadi terhadap korban yang aktif melakukan pengawasan kedisiplinan santri.

“Tapi karena korban ini sering main HP pada malam hari, ketika rapat-rapat pertemuan korban ini gak datang. Jadi ada unsur ketidaksenangan mereka juga,” tambahnya.

Kasus ini menjadi perhatian serius masyarakat karena terjadi di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan yang selama ini dikenal sebagai tempat pembinaan moral dan kedisiplinan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi resmi terkait laporan dugaan pengeroyokan tersebut ke pihak kepolisian. Tim.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *